|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

11 Dec 2017

Peluncuran dan Bedah Buku “Pergulatan Pemikiran Ke-Indonesiaan” Karya Anwar Arifin

Medan Merdeka Selatan, Jakarta-Belum banyak publik yang mengetahui sepak terjang dari Anwar Arifin Andipate. Tapi, siapa sangka bahwa pada usia 43 tahun (1990) Anwar Arifin telah menjadi profesor ilmu komunikasi politik dan termuda yang dimiliki Indonesia saat itu. Eksistensi Anwar Arifin lebih banyak diketahui saat menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1999. Pada masa itu, beliau aktif tercatat dalam pembahasan Amandemen UUD 1945 dan pembahasan 17 Undang-undang di DPR sepanjang 1999-2002. Hal ini terungkap dalam buku terbarunya “Pergulatan Pemikiran Ke-Indonesiaan” yang diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Senin, (11/12/2017).

Dalam prolognya, Anwar mengatakan kalau Perpustakaan Nasional merupakan mitra penting dalam pendistribusian setiap karyanya. Seluruh karya yang dibuat selalu menyertakan perpustakaan. Anwar mengisahkan, kalau cita-citanya sejak kecil adalah menjadi sastrawan. Lalu seiring waktu, ia kemudian menjadi wartawan dan pernah menjadi aktivis sehingga akhirnya menceburkan diri di dalam kancah politik. Buku “Pergulatan Pemikiran Ke-Indonesiaan” merupakan kumpulan 70 artikel pilihan Anwar Arifin yang pernah dipublikasikan melalui surat kabar yang terbit di Jakarta, Surabaya, dan Makassar rentang periode 1977-2017, yang disusun selama dua tahun. “Sangat disayangkan jika tulisan dan gambar yang tersimpan dibiarkan saja menghilang atau hancur dimakan rayap,” kata Arifin singkat.

Syukuran atas  buah karyanya yang ke-54 diselenggarakan berbarengan dengan milad usianya yang ke-70 tahun. Dalam kesempatan tersebut, hadir pula sejumlah politikus senior dari partai berlambang pohon beringin, seperti Akbar Tanjung, Rully Chairul Azwar, dan rekan-rekan semasa aktif menjadi anggota dewan. Akbar Tanjung, salah satu politikus senior yang hadir mengungkapkan kesan terhadap kiprah Anwar Arifin. “Beliau  merupakan sosok negarawan dan cendikiawan. Semasa aktif berjuang menjadi anggota dewan, beliau selalu konsisten dalam memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia. Salah satu tokoh yang menginspirasi,” ucap Akbar Tanjung.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan acara bedah buku dapat menjadi kegiatan rutin di Perpustakaan Nasional.  Namun, yang terpenting saat ini, lanjut Muhammad Syarif adalah mengubah paradigma perpustakaan di mata masyarakat. Perpustakaan tidak lagi sekedar tumpukan atau gudang buku. Perpustakaan adalah rumahnya mahasiswa, para akademisi, pelajar atau publik siapapun yang menghendaki perubahan dan inovasi ke arah yang lebih baik. “Perpustakaan adalah institusi dinamis dalam menghadapi perubahan,” tegas Muhammad Syarif saat ikut menghadiri peluncuran buku Anwar Arifin.

Tidak hanya menjadi rumah bagi para cendekiawan, perpustakaan juga merupakan rumah bagi para peneliti, penulis atau pihak manapun yang ingin menciptakan peradaban baru yang lebih positif. Perpustakaan adalah pusatnya repositori nasional. Amanat UNESCO juga menekankan pentingnya perpustakaan untuk menjalankan fungsi yang tidak hanya layanan, tapi juga penghimpun sekaligus pelestari kebudayaan. “Siapapun bisa memaksimalkan ruang-ruang di perpustakaan untuk digunakan sebagai perwujudan dari esensi perpustakaan. Mau launching buku atau bedah buku, Perpustakaan Nasional akan berupaya memfasilitasi, tambah Kepala Perpusnas.

Buku “Pergulatan Pemikiran Ke-Indonesiaan” berisikan tulisan antitesis terhadap pemikiran yang bersifat Amerikasentris dan Eropasentris yang masih mendominasi sejumlah kalangan akademisi, ilmuwan, atau intelektual serta elite ekonomi, sosial dan politik Indonesia saat ini.

 

Reportase : Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2017-12-22 13:43:30)