|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

24 Jan 2018

DREAMSEA Targetkan 240 Ribu Manuskrip Terdigitalkan Hingga 2022

Medan Merdeka Selatan, Jakarta-  Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Budaya Manuskrip atau Center for the study of Manuscript Culture (CSMC) Universitas Hamburg, Jerman dan ARCADIA dari Inggris mengadakan program kerja sama Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu, (24/1).

Turut hadir pada peluncuran progrma DREAMSEA, antara lain  Deputi Bidang Bengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Ofy Sofiana, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama Jakarta Muhammad Adlin Sila, Dewan Penasihat PPIM-UIN Jakarta Samhari, Kepala Pusat Litbang Lektur dan Khasanah Keagamaan Kementerian Agama M. Zein, dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya Direktur Eksekutif PPIM-UIN Jakarta Saiful Umam menjelaskan bahwa DREAMSEA adalah sebuah program penting dalam hal perawatan dan pelestarian seluruh manuskrip khususnya yang berada di kawasan Asia Tenggara. “Bentuk pelestarian manuskrip yang ditawarkan adalah alih media manuskrip ke dalam bentuk digital atau populer disebut dengan digitalisasi manuskrip,” ujar Saiful Umam.

DREAMSEA dimotori oleh dua orang filolog, yakni  Jan Van der Putten dari CSMC University of Hamburg dan Oman Fathurrahman dari PPIM-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Program DREAMSEA mendapatkan sokongan penuh dari ARCADIA, lembaga donor (foundation) yang berbasis di London, Inggris, milik Rausing dan Peter Baldwin.

DREAMSEA menargetkan hingga tahun 2022, sekurang-kurangnya 240.000 manuskrip berhasil digitalkan. Manuskrip tersebut berasal dari seluruh kawasan Asia Tenggara, sehingga manuskrip-manuskrip tersebut mudah diakses untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Setelah terdigitalkan semua, maka DREAMSEA akan melanjutkan dengan membangun repositori online-nya. “Repositori ini akan memuluskan jalan peneliti untuk memperoleh data-data terkait keragaman manuskrip di Asia Tenggara sekaligus melakukan perawatan teks manuskrip melalui kajian  akademik maupun populer,” tambah Umam.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menegaskan pemerintah sangat mengapresiasi tugas pelestari naskah (filolog). Dalam amanah Undang-undang Perpustakaan bahwa pustakawan salah satu tugasnya adalah mengumpulkan segala informasi dan ilmu pengetahuan yang berserakan, lalu mendiseminasikannya. Perpustakaan Nasional pun selama ini telah menjalankan perannya sebagai pusat repositori nasional sehingga masyarakat dapat memanfaatkannya kapan saja.

“Seluruh muatan informasi dalam manuskrip yang berserakan selama ini, saya pastikan memiliki nilai-nilai historis maupun kebudayaan luhur (suci) yang merupakan jatidiri bangsa Indonesia,” jelas Kepala Perpusnas. Maka itu, Perpusnas mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk mengkaji naskah-naskah kuno, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Perpustakaan Nasional akan ambil bagian menjadi fasilitator dalam upaya pelestarian tersebut. Pemerintah, parlemen, dan masyarakat harus membuat kekuatan bersama dalam pelestarian manuskrip,

“Saya memastikan naskah manuskrip yang berserakan dapat dipahami informasinya oleh masyarakat karena naskah-naskah tersebut memiliki nilai kebudayaan yang luhur yang merupakan jati diri bangsa Indonesia,” imbuhnya. Pemerintah harus bekerjasama dengan semua pihak untuk mengkaji naskah kuno dan diambil informasi mengenai nilai-nilai luhur yang tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Muhammad Syarif mendukung sinergi yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional untuk memfasilitasi dan menjembatani pelestarian naskah-naskah kuno. “Perlu dukungan dan kerja sama antara pemerintah, legislatif, masyarakat untuk membangun kekuatan dalam pelestrian manuskrip,” katanya

Reportase : Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2018-02-18 00:17:58)

Berita Lainnya

Berita - 05 Jun 2018


Perpusnas Pertahankan Predikat WTP