|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

12 Apr 2018

Buku Ajaran Kepemimpinan Asthabrata : Meneladani Delapan Karakter Kepemimpinan dari Paku Alam

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Ajaran Asthabrata mensyaratkan delapan karakter utama pemimpin berdasarkan teladan watak para Dewa Lokapala, sang penjaga alam semesta. Jika kedelapan syarat ini terpenuhi maka akan tercapai kehidupan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Ajaran kepemimpinan Asthabrata merangkum model kepemimpinan dari Paku Alam II hingga Paku Alam X.

Pemimpin harus seperti Batara Indra yang bijaksana, Batara Yama yang memiliki karakter adil dan tegas, Batara Surya yang cermat dalam urusan keuangan, Batara Candra yang memiliki pesona dan kepribadian memikat, Batara Bayu yang memiliki kepribadian kuat tidak mudah terhasut, Batara Wisnu yang aksetis dan petapa, Batara Brama yang tangguh dan berani, dan Batara Baruna yang cerdas dan bijaksana. "Meski sudah berusia lebih dari 200 tahun, nilai kepemimpinan  dan kearifan lokal masih dinilai relevan dengan kondisi bangsa pada saat ini, ujar Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam saat  peluncuran buku 'Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman' karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X di  Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (12/4).

Asthabrata yang berasal dari Kakawin Ramayana berupa ajaran kepemimpinan dari Rama yang disampaikan kepada adiknya, Barata, dan mendapatkan perhatian khusus dari para adipati yang bertahta di Kadipaten Pakualaman. Terdapat 12 teks yang mencoba menjelaskan konsep Asthabrata. Konsep ini merupakan mahakarya intelektual pada zamannya. Menurut GKBRAA Paku Alam, buku ini telah dikemas ulang ke dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Hasil pemikiran pujangga pada era Pakualaman bisa dijadikan sebagai rujukan dalam penyelenggaraan pemerintahan saat ini.

Pada sesi diskusi, pengajar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Sudibyo menyatakan, ajaran kepemimpinan Asthabrata relevan dengan kondisi politik yang tengah memanas di Indonesia. Sudibyo merangkum ajaran Asthabrata dalam empat hal, yakni, Ngadeg (berpegang kepada ketentuan ajaran agama masing-masing), Sabar (tenang menghadapi segala macam peristiwa), Bener (lurus hati), dan Kuwat (tahan terhadap godaan  nafsu jahat).  “Hanya dengan sikap-sikap itulah kita akan dibya tidak terhanyut dalam berbagai godaan yang secara sengaja atau tidak disengaja menghampiri kita,” ujar Sudibyo.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menilai peluncuran buku ini menambah khazanah bagi perpustakaan dan ajaran kepemimpinan. Perpustakaan sebagai institusi masa depan yang menghubungkan pengetahuan masa lampau, kini, dan yang akan datang harus melakukan sosialisasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut.

“Kita semua percaya bahwa senjata  sangat ampuh dibawa ke medan perang, tapi itu digunakan ketika menghadapi musuh bangsa, karena satu peluru memang hanya menembus satu kepala tapi sejatinya telah membunuh jutaan nilai kemanusiaan. Sedangkan, satu buku bisa menembus jutaaan kepala sekaligus menumbuhkan milyaran kemanusiaan yang baru. Siapa menulis buku sebenarnya dia telah mendapatkan keabadian namanya dalam suatu zaman yang tiada akhir. Siapa membaca buku, dia sedang membangun peradaban dan siapa mengajarkan kebaikan dan perdamaian sejatinya dia telah mewujudkan peradaban dunia,” pungkasnya.

 

Reportase : Hanna Meinita



Diunggah oleh admin (2018-04-16 15:15:34)