|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

14 May 2018

Pemkab Malaka Siap Gunakan Dana Desa untuk Pengembangan Perpustakaan Desa/Kelurahan

Malaka, Nusa Tenggara Timur - Komitmen Pemerintah Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam membangun perpustakaan untuk mencerdaskan masyarakat tidak diragukan lagi. Komitmen tersebut tertuang dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding-MOU) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Malaka dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malaka tentang penggunaan dana desa untuk pengembangan perpustakaan desa/kelurahan di wilayahnya. Penandatanganan MOU disaksikan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Malaka Adrianus Bria Seran, dan Kepala Dinas Perpustakaan  Provinsi NTT Frederik J.W. Tielman. Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian acara Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca Perpusnas di Aula Kantor Bupati Malaka, NTT, Senin, (14/5).

Kabupaten Malaka merupakan salah satu daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) di wilayah dekat NTT dan Negara Timor Leste. Perpusnas berkomitmen penuh bahwa mobilisasi ilmu pengetahuan harus sampai hingga ke daerah 3T agar indeks literasi di wilayah tersebut dapat terkoreksi. "Perpustakaan bukan gudangnya ilmu tapi buminya ilmu," jelas Bupati Malaka. Bupati menjelaskan klasifikasi negara, yaitu sangat maju, maju, berkembang, kurang berkembang,  dan terbelakang. Menurutnya ukurannya dilihat dari sumber daya manusia untuk mencerdaskan bangsa, yaitu melalui membaca, dimana terdapat beragam bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Bupati Stefanus lalu dengan bangga menunjukkan kepada hadirin kartu anggota kehormatan Perpustakaan Nasional miliknya. "Dengan kartu ini dapat diakses miliaran judul buku, ukuran intelektual seseorang dapat dilihat dari dalam satu bulan bisa membaca beberapa buku," pungkasnya.

Safari merupakan program rutin Perpustakaan Nasional sebagai implementasi program revolusi mental pemerintahan Jokowi - JK. Kepala Perpusnas  Muhammad Syarif Bando mengapresiasi terhadap visi  Bupati Malaka yang mengutamakan pembangunan infrastruktur untuk umum daripada fasilitas pribadi untuk pejabat. Muhammad Syarif mengatakan inspirasi dari Perdana Menteri  Singapore Lee Kuan Yew (1995-1990) patut ditiru. "Lee Kuan Yew berkeliling dunia kemudian mengambil foto-foto dari setiap tempat terbaik dunia kemudian disebar ke masyarakat dengan mimpi suatu ketika Singapura akan seperti foto-foto yang tersebar," ujar Muhammad Syarif.

Dalam paparannya Kepala Perpusnas menjelaskan MoU antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dengan Perpustakaan Nasional meliputi penyediaan buku-buku dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pembiasaan hidup sehat yang meliputi pola dan jenis makan. "Karena sejatinya kita adalah dokter bagi diri sendiri," jelas Kepala Perpusnas. Syarif juga menerangkan bahwa perpustakaan yang memiliki peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa diperkuat dengan lahirnya UU No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan yang didalamnya pada pasal 1-5, masyarakat berhak atas informasi yang dilakukan pemerintah. Pasal 7, pemerintah wajib menyediakan fasilitas perpustakaan. Pasal 22, pengembangan perpustakaan umum. Pasal 23, pengembangan perpustakaan sekolah, Pasal 24, pengembangan perpustakaan perguruan tinggi. Pasal 24, perpustakaan khusus seperti RS, instansi dan lain-lain.

Sri Sularsih yang pernah menjabat sebagai Kepala Perpusnas ke-4 menjadi salah satu narasumber talkshow, mengatakan bahwa perpustakaan adalah simbol kecerdasan. Masyarakat bisa meneladani para pendiri bangsa, diantaranya Soekarno-Hatta yang kemudian  menjadi tokoh besar dan disegani di kancah dunia internasional karena memiliki keluasan pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dari kebiasaan membaca. Menurut Sri untuk memfasilitasi masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, Perpustakaan Nasional sudah memiliki beberapa program peningkatan budaya minat baca seperti e-journal, Indonesia OneSearch, iPusnas dan lain-lain. Tinggal bagaimana masyarakat apakah mau memanfaatkan segala kemudahan fasilitas untuk membaca dengan baik atau tidak. Pembudayaan kegemaran membaca tidak bisa tumbuh dengan sendiri. Perlu dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, satuan pendidikan dan lingkungan masyarakat itu sendiri. "Masyarakat bisa memulai penanaman kecintaan membaca mulai dari lingkungan keluarga sehingga lambat laun akan menjadi kebiasaan lalu pada akhirnya menjadi budaya," terang Sri Sularsih.

Sedangkan narasumber talkshow lainnya Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi NTT Frederik J.W. Tielman menjelaskan akses bacaan masyarakat Nusa Tenggara Timur tidak seimbang dengan akses ketersediaan buku. Tielman Sependapat dengan Sri Sularsih membaca tidak sekedar membaca atau hanya sekedar mengenal huruf tapi hendaknya juga dibarengi pemahaman yang baik. "Secara umum masyarakat NTT lebih dominan terhadap budaya tutur,' terang Tielman menjelaskan tantangan dalam meningkatkan indeks literasi di wilayahnya. Tielman juga berharap dengan ketersediaan buku-buku ilmu terapan dan teknologi tepat guna masyarakat memiliki pikiran yang terbuka dan dapat mengembangkan potensi daerahnya masing-masing.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Malaka Petrus Tei Seran yang juga narasumber talkshow menyatakan mendukung penuh program perpustakaan melalui pengawasan, anggaran  serta produk hukum.  "Kepada pihak yang terkait, teruskan ini program  sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik. Kami dari lembaga mendukung semua kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah," ujar Petrus.

"Manusia ditentukan tiga hal yaitu asupan gizi di masa kecil, buku yang dibaca dan dengan siapa berteman," jelas Syarif. Dalam ajaran agama manapun pasti mewajibkan umatnya untuk membaca.  Perpustakaan adalah wahyu atau ilmu dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia dimana untuk memudahkan dibuatlah aksara membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk makna sehingga membentuk buku lalu dikelola itulah esensinya. Perlukah buku di era internet? Syarif menjelaskan buku masih sangat diperlukan dimana dengan mempelajari buku kemampuan seseorang dalam memahami informasi sangat mendalam sedangkan dengan internet menjelaskan informasi hanya sekedar permukaannya saja dan bersifat instan. Syarif juga menerangkan bahwa di dunia saat ini standard kecepatan membaca mulai dari 300 kata/menit disertai daya serap sampai dengan 1000 kata/menit.

 Reportase : Dewi Kartikasari dan Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2018-05-16 12:06:22)