|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

12 Jul 2018

Rayakan HUT ke-45 IPI : Menuju IPI ke Arah Mandiri

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Perpustakaan Nasional bersama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menyelenggarakan Gelar Wicara "45 Tahun Ikatan Pustakawan Indonesia Membangun Negeri: Kontribusi dan Tantangan" dalam rangka peringatan HUT ke-45 Ikatan Pustakawan Indonesia berlangsung di Gedung Layanan Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis, (12/7). IPI adalah organisasi profesi milik para pustakawan yang lahir pada 6 Juli 1973 yang memiliki andil besar  besar dalam sejarah pendirian perpustakaan di Indonesia.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan pustakawan sebagai salah satu komponen utama di perpustakaan diharapkan memiliki kompetensi yang memadai dalam menghadapi persaingan di era digital.  "Para pustakawan untuk lebih pro aktif ke masyarakat agar mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Tag line ‘Pustakawan Bergerak’ diusung sebagai penegasan dari upaya tersebut," ungkap Kepala Perpusnas.  Pustakawan bergerak adalah upaya mendorong pengetahuan (knowledge mobilization) sehingga setiap individu tanpa terkecuali mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan mengembangkan kompetensi diri agar kesejahteraan hidupnya meningkat.

Setelah selesai dengan  'Pustakawan Bergerak', di tahun 2018, maka di tahun 2019 tagline yang diusung dalam program kerja tahunan Perpustakaan Nasional adalah 'Pustakawan Berkarya'. Pustakawan, lanjut Kepala Perpusnas, tidak lagi berpijak pada masa lalu tapi harus berpacu untuk masa depan. Program dan komitmen membangun institusi dan organisasi harus lebih baik lagi. Masyarakat perlu bukti konkret melihat kiprah IPI di masa depan.  "Saya mengharapkan program kerja IPI di tahun-tahun mendatang tidak lagi bersifat seremonial, seperti raker, rakor dan perayaan ulang tahun. Buatlah program kerja yang sesuai dengan konteks jaman," terang Muhammad Syarif. 

Ketua Umum Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) mengatakan di usianya yang ke-45, usia yang cukup matang menjelang setengah abad. Usia yang cukup untuk menjawab tantangan di masa depan. Pencapaian cita-cita menjadikan IPI sebagai organisasi profesional dan mandiri diakui Dedi Junaedi belum cukup terlihat, terutama secara finansial. IPI bersyukur, Perpustakaan Nasional selalu terbuka tangannya membantu IPI bergerak ke arah kemandirian, salah satunya dengan mengadakan sejumlah bimbingan teknis (bimtek) di sejumlah daerah. 

Pustakawan di era digital harus bisa mengembangkan keterampilan informasi literasi digital kepada masyarakat. Sehingga dengan demikian, setiap individu memiliki keterampilan literasi yakni kemampuan dalam mencari informasi, menemukan, mengevaluasi, membuat, memaparkan, hingga menyebarkan kembali informasi tersebut. "Pustakawan dituntut beradaptasi dengan infrastruktur teknologi digital. Selain aktif mengikuti dinamika teknologi digital, pustakawan juga diminta untuk peduli terhadap kondisi sosial masyarakat. Pustakawan didesak untuk ambil bagian dalam menyajikan informasi dan referensi yang valid untuk menangkal informasi yang sesat atau hoaks," tambah Dedi.

Reportase : Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2018-07-15 15:12:53)