|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

03 Sep 2018

Perpustakaan Nasional Siap Bekerjasama dengan Library of Congress (LOC) Jakarta

Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menerima kunjungan dari pengurus International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) dan Library of Congress (LOC) di Jakarta, Senin (4/9). Kunjungan pengurus IFLA dan LOC adalah untuk bersilaturahmi dengan Perpustakaan Nasional  yang saat ini tengah populer di dunia kepustakawanan internasional. Hadir pada kunjungan tersebut, LOC Field Director Dr. Carol, Congessional Research Librarian  and IFLA Committee Lillian Gassie, Ahli Preservasi LOC Jean Drewes, Kepala Akuisisi LOC Ade Farida, Preservator LOC Herry Suprapto. Pada pertemuan tersebut, Kepala Perpusnas mengharapkan adanya kerjasama antara Perpustakaan Nasional dengan LOC dalam bidang preservasi dan konservasi bahan pustaka.

“Perpustakaan Nasional merupakan salah satu yang terunik di dunia karena satu-satunya negara yang mengatur pengelolaan perpustakaan dari pusat, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan hingga desa yang dituangkan dalam sebuah undang-undang  43 tahun 2007 tentang perpustakaan,” terang Syarif membuka percakapan. Kepala Perpusnas juga menyampaikan dalam UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, perpustakaan menjadi urusan wajib non dasar. Syarif juga memaparkan dalam UU 43 tahun 2007 pasal 21 perpustakaan nasional melaksanakan pembinaan , pengembangan, evaluasi dan dan koordinasi terhadap pengelolaan perpustakaan dan membina kerjasama dalam pengelolana semua jenis perpustakaan. Pembinaan sebagaimana tercantum pada pasal 22  tentang perpustakaan umum, pasal 23 tentang perpustakaan sekolah/madrasah, pasal 24 tentang perpustakaan perguruan tinggi, pasal 25 tentang perpustakaan khusus. Sedangkan pada pasal 48, 49, 50, 51 mengenai regulasi dalam pembudayaan kegemaran membaca di masyarakat.

“Sebenarnya kegemaran membaca masyarakat Indonesia itu tinggi, tetapi rasio antara buku yang terbit dengan yang dibutuhkan masyarakat itu jauh, Ada sekitar 100 juta masyarakat pedesaan membutuhkan buku-buku ilmu terapan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada,” papar Syarif.  Saat ini sekolah-sekolah belum memberikan ruang untuk lebih banyak membaca tentang local content, hanya mempelajari materi-materi yang universal seperti matematika, fisika dan lain-lain. Syarif juga menyampaikan perkembangan internet atau online merupakan suatu fasilitas untuk memudahkan dalam mengakses tapi bukan merupakan sarana pembelajaran yang utama. Perpustakaan sebagai institusi pembelajaran, saat ini merupakan sumber informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. “Saat ini Perpustakaan Nasional juga telah mengembangkan perpustakaan digital melalui e-resources, iPusnas, Indonesia Onesearch (IOS). Fasilitas e-resources sangat cocok mencari jurnal penelitian internasional yang umumnya dibutuhkan peneliti, iPusnas merupakan alternatif dalam membaca dan mengakses buku digital, IOS bersifat layanan perpustakaan digital yang dapat diakses di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

Dalam Kunjungannya LOC Field Director Dr. Carol ingin mengetahui tentang preservasi maupun layanan serta kebijakan yang ada di Perpustakaan Nasional. Sedangkan Jean Drewes menyampaikan ketertarikannya terhadap khasanah budaya bangsa Indonesia yang bernilai luhur melalui naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh nusantara. Terkait naskah kuno, Syarif menjelaskan dalam UU 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mewajibkan kepada Perpustakaan Nasional untuk mendata, mengkonservasi, dan memberikan penghargaan kepada setiap orang yang menyimpan, merawat dan melestarikan naskah kuno. Lillian Gassie juga ingin tahu mengenai kebijakan digitalisasi terhadap manuskrip atau naskah kuno yang ada di Indonesia. Syarif mengemukakan Indonesia memiliki regulasi yang tertuang dalam UU Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah Terima Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) dimana setiap hasil budaya perlu dihimpun, disimpan, dipelihara, dan dilestarikan di suatu tempat tertentu sebagai koleksi nasional.

 

Reportase : Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2018-10-01 11:13:05)